Gemuk Sehat dengan Cinta
Berat? Dari segi fisik dan materi si calon menurutnya kalah bersaing. Selain memang teman saya itu sudah bersimpati sejak dulu pada si lelaki.
“Terlambat. Andai saja kamu lebih dulu mengutarakannya, mungkin saya akan menerimanya.”
Teman saya sempat mengatakan demikian pada si lelaki. Beruntung, teman saya menyadari ucapannya itu sebagai sebuah kekeliruan. Astagfirullah. Betapaun si calonnya itu tentu lebih pemberani. Lebih gentle. Sementara si lelaki yang tiba-tiba punya keberanian untuk mengutarakan perasaannya itu tak lebih dari seorang pecundang. Dia baru mengutarakan perasaannya sesaat setelah teman saya mengabarkan pada si lelaki tersebut perihal rencana pernikahannya.
Seharusnya si lelaki itu tau diri. Bukankah kita nggak boleh melamar perempuan yang sudah dilamar saudara kita sendiri (sesama muslim)? Betapapun cintanya kita pada perempuan tersebut?
Ah, atau mungkin ini hanya pendapat saya yang bersifat subjektif. Lelaki itu mungkin punya alasan. Lebih dari itu saya bangga terhadap teman saya. Saya tahu betul dia masih mengharapkan si lelaki. Boleh jadi dia memang mencintai si lelaki. Bila boleh berpikir kurang ajar dan liar, bisa saja teman saya menerima pinangan si lelaki dan membatalkan rencana pernikahannya dengan si calon. Toh, undangan belum dibuat karena teman saya dan calonnya masih sibuk menentukan tanggal. Tapi untung saja teman saya tidak melakukan itu.
Ceritanya terhenti lantaran Ibunya baru saja datang sehabis belanja dari warung. Seperti biasa teman saya langsung memberikan telponnya kepada si Ibu. Karena sayapun sudah kangen ingin mendengar petuah-petuahnya yang jitu.
Suara seorang perempuan setengah baya terdengar menyapa saya. Menanyakan kabar saya. Suaranya khas. Tegas. Kami lalu mengobrol ringan sejenak. Sesekali diselingi gurauan yang memancing tawa kami menggema.
“Kuliah kamu masih jalan?” tanya Ibu selanjutnya. Beliau memang sudah menganggap saya –dan beberapa teman yang lain—sebagai anaknya. Dulu hampir setiap hari sepulang sekolah saya ke rumah beliau bersama teman-teman saya yang lain. Base camp kami menyebutnya.
“Sudah nggak kuliah, Bu.” Saya menjawabnya dengan ragu, dan juga malu.
“Oh, kenapa?” Ibu tampaknya terkejut. “Ayo cerita sama Ibu!”
Saya terdiam.
“Kamu jangan ragu-ragu. Anggap saja Ibu sebagai teman kamu!”
Saya akhirnya bercerita sedikit. Dan si Ibu nampaknya bisa memahami kondisi saya.
“Tenang saja, Bu. Semangat saya masih sama seperti dulu, kok. Sekarang yang paling penting adik-adik saya bisa sekolah.”
“Ibu percaya. Ibu berharap kamu bisa selesai kuliah. Untuk masa depan kamu!”
Di akhir perbincangan kami si Ibu sempat membahas badan saya yang semakin hari semakin kurus. Lantas beliau memberi saya wejangan.
“Kamu tau merek obat supaya gemuk tapi sehat itu apa?”
Saya menangkap pertanyaan beliau itu samar. Sayapun bilang tidak tau.
“Cinta!” kata beliau.
Saya tertegun sejenak, berusaha menyelami maksud yang terkandung dari kata yang diucapkan belaiu. Namun pada titik itu, saya belum mampu menemukan jawabannya.
“Berusahalah untuk mencintai diri kamu sendiri. Mencintai orang-orag di sekitar kamu. Cintai pekerjaan kamu, sebagai ladang ibadah. Yang utama cintai Tuhanmu. Insyaallah kamu bahagia. ”
Saya tersentak. Betapapun seringnya saya membaca kalimat semacam itu dari buku-buku How To yang saya baca, hati saya tak pernah sampai gerimis.
“Tapi ada yang nggak kalah penting. Cintai makanan. Kalau kamu malas makan bagaimana kamu bisa gemuk!” kelakarnya.
Saya tersenyum.
InsyaAllah, Bu.


