Akhirnya jadi juga tur ke Taman Cibodas. Sebelumnya rekan-rekan kerja satu tim gue sebagian besar keberatan. Alasannya macem-macem. Ada yang bilang bosen. Ada yang bilang kejauhan. Takut macet dan sebagainya.
Mau bagaimana lagi? Poolingnya menang ke Cibodas.
Gue juga heran sama kebanyakan dari mereka. Mereka tuh pengin tur ke tempat yang rame, banyak permainannya (secara mereka kebanyakan udah berkeluarga), bagus, dan murah. Nah, yang terkahir itu yang susah. Murah. Gue sempet ngasih opsi ke Taman Safari atau ke Dufan. Tapi banyak yang nggak setuju. Mahal katanya. Ya elah, setaun sekali ini. Eh giliran di adain pooling lagi, Cibodas yang menang. Emang sih yang milih Cibodas kebanyakan para bujangan kayak gue. Sebenarnya kita-kita kesel sama para senior kita. Egois. Makanya kita pilih tempat yang nggak mau mereka datengin.
Para senior awalnya nggak langsung nerima gitu aja. Banyak alesannya. Tapi yang bikin bete mereka ngomong gini :
"Boleh kita tur ke Cibodas. Tapi pada bawa cewek nggak? Kalau sendiri percuma!"
Gue : "Apa hubungannya tur ke Cibodas sama bawa cewek?"
Senior : "Ya iya lah mesti bawa cewek. Kalau nggak bawa cewek ngapain lo di kebon?"
Gue : (agak emosi lantaran maksud mereka pasti nyindir gue lantaran udah dua kali tur gue nggak pernah bawa cewek) "Lagian saya juga bingung. Anda-anda tuh mau tur ke tempat yang cuma ada di dunia khayalan!"
Akhirnya clear deh. Semuanya akhirnya setuju. Gue juga sebenarnya nggak niat amat mau ke Taman Cibodas. Tapi daripada turnya nggak jadi gara-gara bingung nentuin tempat.
Gue juga kebagian jatah jadi panitia lagi. Untuk yang ketiga kalinya. Yah, repot lagi aja. Pas meeting kepanitiaan. Ada yang nyinggung masalah cewek lagi.
Senior : "Kamu berapa kursi?"
Gue : "Satu..." (dengan malu-malu gitu)
Senior : "Nggak malu apa sama si blablabla..."
Senior : "Berarti duduknya deretan paling belakang!"
Euh, gue kesel banget. Gara-gara nggak bawa cewek gue mesti duduk di kursi deretan paling belakang. Gue kan penginnya duduk di deket kaca. Biar bisa liat pemandangan sepanjang jalan. Ini mah di deretan paling belakang. Udah gitu di tengah. Sementara yang ada di kiri kanan gue pasti yang pasangan. Makan ati lagi.
Gue langsung protes aja.
Gue : "Kenapa mentang-mentang nggak bawa cewek, gue mesti di diskriminasi melulu?"
Senior : "Ya maaf. Harus pengertian dong sama yang pasangan. Lagian salah siapa nggak bawa cewek?"
Gue : "Punya pacar atau nggak itu masalah pilihan. Buat saya, punya pacar itu nggak ada urgensi-nya untuk hidup saya sekarang. Yang urgen buat saya seekarang itu, nikah atau nggak nikah. Itu baru urgent!"
Senior : "Kalau nggak pernah punya pacar bagaimana bisa menikah?"
Gue : (Saking keselnya gue sok ngasih ceramah gitu) "Maaf, setau saya dalam rukun dan syarat sah nikah itu nggak tercantum apa yang disebut pacaran. Kita nggak bisa nikah itu kalau nggak nggak ada walinya, nggak ada saksi atau nggak ada ijab kabul."
Mereka akhirnya diem juga. Sebenernya sih ada satu lagi syarat nikah itu. Ada mempelainya (ada yang dinikahkan). Kalau pas adu omong gue sebutin yang satu ini tuh orang pasti bakal balik ngomong.
"Kalau nggak pacaran nggak mungkin ada mempelai wanitanya kan?"
Itu bakalan panjang lagi bahasannya.
Singkat cerita tur pun jadi. Kita semua berangkat hari minggu kemaren ke Taman Cibodas. Syukurlah nggak terlalu mengecewakan. Dengan banyaknya perlombaan yang digelar bikin suasana nggak boring. Bayangin aja kalau sampai nggak ada acara. Yang keluarga bisa bareng keluarganya. Yang bawa pacarnya bisa jalan-jalan bareng pacarnya. Nah gue?